Roro Jonggrang: Ketika Batu Menjadi Manusia
Kisah putri cantik, seribu candi, dan bagaimana masyarakat memberi cerita pada batu-batu Prambanan
Di antara candi-candi Prambanan berdiri sebuah sosok perempuan yang sejak lama mengundang rasa ingin tahu. Wajahnya tenang, tubuhnya anggun, tangannya membawa atribut senjata. Bagi para ahli arkeologi, ia adalah Durga Mahisasuramardini, salah satu dewi penting dalam agama Hindu.
Namun bagi banyak orang Jawa, sosok perempuan itu adalah Roro Jonggrang.
Konon, ia adalah putri Prabu Baka yang dikutuk menjadi batu setelah menggagalkan usaha Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam semalam.
Cerita itu begitu melekat sehingga nama Loro Jonggrang akhirnya menjadi salah satu nama yang paling dikenal untuk kompleks candi utama Prambanan.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar: “Apakah Roro Jonggrang benar-benar menjadi batu?”
Bagaimana sebuah arca dewi berubah menjadi seorang putri dalam ingatan masyarakat?
Di situlah kisah Roro Jonggrang menjadi jauh lebih menarik.
Prambanan jauh lebih tua daripada ceritanya
Prambanan bukanlah bangunan yang lahir dari legenda.
Ia merupakan salah satu kompleks keagamaan Hindu terbesar di Jawa, yang berkembang pada masa Mataram Kuna sekitar abad ke-9. Salah satu sumber terpentingnya adalah Prasasti Siwagrha, bertarikh 856 M.
Prasasti tersebut memberikan gambaran tentang pembangunan kompleks suci yang berkaitan dengan pemujaan terhadap Siwa.
Dengan kata lain, ketika kita berdiri di depan Prambanan, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan sebuah proyek keagamaan, politik, dan kebudayaan yang sangat besar.
Ada raja.
Ada pekerja.
Ada pemahat.
Ada arsitek.
Ada ritual.
Ada sistem kepercayaan.
Dan tentu saja ada kekuasaan.
Tetapi prasasti itu tidak menyebut seorang putri bernama Roro Jonggrang.
Nama tersebut datang dari dunia yang berbeda: dunia cerita rakyat.
Putri yang tidak ingin menikah
Dalam cerita yang dikenal luas masyarakat Jawa, Roro Jonggrang adalah putri Prabu Baka, penguasa sebuah kerajaan yang kemudian dikalahkan oleh Bandung Bondowoso.
Bandung Bondowoso jatuh hati kepada Roro Jonggrang dan ingin menikahinya.
Masalahnya, Roro Jonggrang tidak mencintainya.
Ia juga tidak mudah melupakan kenyataan bahwa lelaki itu telah mengalahkan ayahnya.
Maka ia mengajukan syarat yang tampaknya mustahil:
Bandung Bondowoso harus membangun 1.000 candi dalam satu malam.
Bandung menerima tantangan.
Dengan bantuan makhluk-makhluk gaib, pembangunan berlangsung dengan sangat cepat.
Malam semakin larut.
Candi demi candi berdiri.
Roro Jonggrang mulai cemas.
Jika Bandung berhasil, ia harus menikah dengannya.
Maka muncullah siasat.
Para perempuan diperintahkan menumbuk lesung dan membakar jerami seolah-olah pagi telah tiba. Suasana dibuat menyerupai datangnya fajar.
Makhluk-makhluk gaib yang membantu Bandung mengira matahari segera terbit.
Mereka pergi.
Pembangunan berhenti.
Jumlah candi belum mencapai seribu.
Bandung Bondowoso akhirnya mengetahui tipu daya tersebut.
Dan kemarahannya berubah menjadi kutukan.
Roro Jonggrang menjadi batu.
Menurut cerita, batu itulah yang kemudian dikenal sebagai arca Roro Jonggrang.
Tetapi tunggu dulu: apakah benar 1.000 candi?
Di sinilah legenda mulai bertemu dengan arkeologi.
Tidak jauh dari Prambanan terdapat Candi Sewu.
“Sewu” berarti seribu dalam bahasa Jawa.
Nama tersebut sangat cocok dengan legenda tentang seribu candi.
Namun secara arkeologis, kompleks Sewu bukanlah 1.000 candi.
Kompleks ini memiliki sekitar 250 struktur dan berasal dari periode yang lebih tua daripada Prambanan. Sewu juga merupakan kompleks Buddhis, sementara Prambanan merupakan kompleks Hindu.
Jadi, cerita rakyat telah menyatukan dua kompleks yang sebenarnya memiliki sejarah dan latar keagamaan berbeda.
Ini bukan berarti legenda itu “salah”.
Legenda memang tidak bekerja seperti laporan arkeologi.
Legenda bekerja seperti ingatan.
Ia memilih bagian-bagian yang dianggap penting, menggabungkannya, lalu membuat sebuah cerita yang mudah diwariskan.
Lalu siapa Prabu Baka?
Dalam legenda, Prabu Baka adalah ayah Roro Jonggrang dan penguasa kerajaan Baka.
Masyarakat kemudian menghubungkannya dengan kawasan Ratu Boko, sebuah kompleks arkeologis di atas perbukitan tidak jauh dari Prambanan.
Tetapi sekali lagi, arkeologi memberikan gambaran yang lebih rumit.
Ratu Boko memiliki sejarah sejak abad ke-8. Prasasti Abhayagiriwihara dari 792 M menjadi salah satu bukti penting keberadaan situs tersebut.
Kompleks Ratu Boko juga mengalami perubahan fungsi dan memperlihatkan unsur-unsur keagamaan serta arsitektur yang beragam.
Tidak ada bukti sederhana yang mengatakan:
“Ini adalah istana Prabu Baka.”
Tetapi masyarakat melihat reruntuhan besar di atas bukit dan memiliki sebuah cerita untuk menjelaskannya.
Maka lahirlah hubungan:
Ratu Boko → Prabu Baka → Roro Jonggrang.
Reruntuhan mendapatkan tokoh.
Tokoh mendapatkan keluarga.
Dan keluarga mendapatkan kisah.
Arca Durga yang menjadi Roro Jonggrang
Bagian paling menarik dari legenda ini adalah arca yang kini terkenal sebagai Roro Jonggrang.
Dalam ilmu arkeologi dan ikonografi Hindu, sosok tersebut adalah Durga Mahisasuramardini.
Durga digambarkan sebagai dewi yang mengalahkan Mahisasura, makhluk yang berwujud kerbau.
Ia bukan Roro Jonggrang.
Setidaknya, bukan dalam pengertian ikonografi Hindu.
Namun masyarakat memberi nama lain kepada arca tersebut.
Roro Jonggrang.
Mengapa?
Mungkin karena ada kesesuaian yang sangat kuat antara cerita dan objek.
Cerita berbicara tentang seorang perempuan cantik yang akhirnya menjadi batu.
Di depan mata masyarakat terdapat sosok perempuan yang benar-benar terbuat dari batu.
Maka keduanya bertemu.
Cerita memberi nama kepada batu.
Dan batu memberi tubuh kepada cerita.
Sejarah tidak selalu hilang. Kadang ia berubah menjadi legenda.
Ada satu hal yang perlu diingat.
Kita tidak memiliki bukti bahwa Roro Jonggrang adalah tokoh sejarah.
Demikian pula belum ada bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa Bandung Bondowoso adalah tokoh sejarah tertentu.
Pernah muncul upaya menghubungkan Bandung Bondowoso dengan Rakai Pikatan, sedangkan Roro Jonggrang dikaitkan dengan Pramodhawardhani.
Menarik?
Sangat.
Terbukti?
Belum.
Pada abad ke-9 memang terjadi perubahan politik penting di Jawa Tengah. Rakai Pikatan menikahi Pramodhawardhani, dan periode tersebut berkaitan dengan dinamika politik antara kelompok-kelompok penguasa Mataram Kuna.
Karena itu, bukan tidak mungkin para peneliti mencoba mencari gema sejarah di balik legenda.
Tetapi kita harus berhati-hati.
Legenda bukan dokumen sejarah.
Kalaupun di dalamnya tersimpan ingatan tentang peristiwa nyata, ingatan itu telah mengalami perubahan selama ratusan tahun.
Sejarah mungkin menyediakan bahan bakunya.
Masyarakat kemudian mengolahnya menjadi cerita.
Roro Jonggrang baru ditulis jauh setelah Prambanan berdiri
Ini juga menarik.
Prambanan dibangun sekitar abad ke-9.
Sementara salah satu naskah penting yang berkaitan dengan kisah tersebut, Babad Prambanan, hadir dalam tradisi penulisan Jawa yang jauh lebih kemudian. Salah satu naskah yang diteliti dalam kajian modern merupakan salinan tahun 1927.
Artinya kita tidak boleh mengatakan:
“Babad Prambanan ditulis pada zaman pembangunan Prambanan.”
Tidak demikian.
Namun bukan berarti ceritanya baru muncul pada 1927.
Cerita rakyat dapat hidup berabad-abad secara lisan sebelum masuk ke dalam manuskrip.
Kita hanya perlu membedakan tiga hal:
situsnya tua,
ceritanya dapat lebih muda atau diwariskan secara lisan,
dan
naskah yang mencatatnya bisa jauh lebih muda lagi.
Ini seperti sebuah lagu yang sudah dinyanyikan turun-temurun, tetapi baru direkam beberapa generasi kemudian.
Ketika Raffles datang
Pada awal abad ke-19, orang Eropa mulai melakukan dokumentasi yang lebih sistematis terhadap peninggalan Jawa.
Thomas Stamford Raffles, dalam The History of Java yang terbit pada 1817, mencatat kompleks tersebut dan nama-nama lokal yang berkaitan dengannya, termasuk Chándi Lóro Jónggrang.
Ini penting.
Sebab legenda Roro Jonggrang bukanlah cerita yang baru dibuat untuk brosur pariwisata modern.
Pada awal abad ke-19, cerita dan nama tersebut sudah hidup dalam masyarakat.
Raffles tidak menciptakan Roro Jonggrang.
Ia mendokumentasikan sebuah tradisi yang telah berkembang di tengah masyarakat.
Mengapa masyarakat menciptakan cerita?
Bayangkan seseorang hidup ratusan tahun setelah Prambanan dibangun.
Ia melihat batu-batu raksasa.
Melihat arca.
Melihat relief.
Melihat bangunan yang sebagian telah runtuh.
Tetapi ia tidak lagi memiliki seluruh pengetahuan tentang:
siapa pembangunnya,
bagaimana pembangunannya,
mengapa setiap arca ditempatkan di sana,
dan apa makna seluruh simbol tersebut.
Namun manusia tidak nyaman dengan ruang kosong.
Maka muncul pertanyaan:
“Siapa yang membuat semua ini?”
Jawaban yang paling mudah bukan selalu jawaban ilmiah.
Kadang jawabannya adalah:
“Dulu ada seorang raja.”
Lalu:
“Raja itu punya seorang putri.”
Lalu:
“Putrinya cantik.”
Lalu:
“Ada seorang pangeran yang mencintainya.”
Lalu:
“Ia meminta seribu candi.”
Dan tiba-tiba reruntuhan yang sunyi memiliki cerita.
Batu membutuhkan manusia
Di sinilah Roro Jonggrang menjadi lebih dari sekadar dongeng.
Ia menunjukkan bagaimana manusia berhubungan dengan warisan budaya.
Sebuah candi adalah benda.
Tetapi manusia memberinya makna.
Sebuah arca adalah benda.
Tetapi manusia memberinya nama.
Sebuah reruntuhan adalah benda.
Tetapi manusia memberinya masa lalu.
Dan ketika generasi berganti, cerita tersebut ikut berubah.
Dalam proses itu, batu tidak lagi sekadar batu.
Ia menjadi ingatan.
Bahkan legenda adalah bentuk komunikasi visual
Jika dilihat dari perspektif seni dan desain, kisah Roro Jonggrang sangat menarik.
Prambanan memiliki:
arsitektur → sebagai media
relief → sebagai gambar
arca → sebagai karakter
ruang → sebagai panggung
legenda → sebagai narasi
masyarakat → sebagai pembaca
Bayangkan jika seseorang yang tidak bisa membaca buku datang ke Prambanan.
Ia tetap dapat melihat cerita melalui:
gerak tubuh tokoh,
ekspresi,
pakaian,
senjata,
hewan,
arsitektur,
urutan relief,
dan posisi figur.
Itulah sebabnya relief bukan sekadar dekorasi.
Ia adalah bahasa visual.
Dan legenda Roro Jonggrang melakukan sesuatu yang serupa.
Ia mengubah benda-benda yang diam menjadi cerita yang bisa diingat.
Dari batu menjadi manusia
Ada paradoks indah dalam legenda ini.
Roro Jonggrang dikisahkan:
manusia berubah menjadi batu.
Tetapi dari sudut pandang budaya, justru terjadi hal sebaliknya.
Batu berubah menjadi manusia.
Sebuah arca diberi nama.
Sebuah reruntuhan diberi kerajaan.
Sebuah bangunan diberi kisah cinta.
Sebuah figur dewi diberi identitas seorang putri.
Dengan begitu, benda-benda tua yang kehilangan konteksnya memperoleh kehidupan baru dalam ingatan masyarakat.
Mungkin itulah sebabnya legenda Roro Jonggrang mampu bertahan.
Bukan karena kita harus percaya bahwa seorang perempuan benar-benar dikutuk menjadi batu.
Melainkan karena cerita itu memberi kita sebuah cara untuk berbicara dengan batu.
Roro Jonggrang hari ini
Ketika kita datang ke Prambanan sekarang, kita membawa dua cara pandang.
Kita bisa melihatnya sebagai:
monumen sejarah,
karya arsitektur,
situs keagamaan,
warisan budaya dunia,
atau
tempat berlangsungnya legenda Roro Jonggrang.
Semua lapisan itu hidup berdampingan.
Arkeologi membantu kita memahami apa yang dapat dibuktikan.
Legenda membantu kita memahami bagaimana masyarakat mengingat.
Dan seni membantu kita memahami bagaimana manusia mengubah pengalaman menjadi bentuk.
Mungkin karena itu Roro Jonggrang tidak perlu “dibunuh” oleh ilmu pengetahuan.
Kita tidak perlu memilih:
sejarah atau legenda.
Kita cukup mengetahui mana yang merupakan bukti sejarah dan mana yang merupakan cerita.
Sebab keduanya sama-sama penting untuk memahami manusia.
Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan tentang Roro Jonggrang bukanlah:
“Benarkah ia menjadi batu?”
Tetapi:
“Mengapa, setelah lebih dari seribu tahun, kita masih membutuhkan seorang Roro Jonggrang untuk membuat batu-batu Prambanan berbicara?”
Barangkali karena manusia selalu membutuhkan cerita.
Dan ketika sejarah mulai samar,
ceritalah yang menjaga ingatan tetap hidup.
Art House of Haryo SAS
Menjaga ingatan, membaca zaman, dan merawat gagasan melalui seni.
Catatan: Artikel ini membedakan antara fakta arkeologis, sumber epigrafis, tradisi naskah, dan legenda rakyat. Identifikasi Roro Jonggrang dengan tokoh sejarah tertentu seperti Pramodhawardhani, serta Bandung Bondowoso dengan Rakai Pikatan, merupakan interpretasi yang menarik tetapi belum dapat dianggap sebagai fakta sejarah.

Komentar
Posting Komentar