(Seri 2) MENGAPA SENIMAN DI LUAR ARUS UTAMA SULIT MENENTUKAN HARGA?
Di akhir Seri 1 kita sampai pada satu pertanyaan: pasarnya ada, tapi apakah cukup stabil untuk menghidupi seniman? Pertanyaan itu langsung membawa kita ke masalah yang lebih sensitif, yang jarang dibicarakan secara terbuka di kalangan seniman sendiri: soal harga. Berapa seharusnya karya ini dijual? Rp500 ribu kemahalan atau kemurahan? Rp5 juta apakah wajar? Rp15 juta apakah akan membuat orang menjauh? Bagi seniman di dalam arus utama, harga dibantu oleh sistem. Ada galeri yang menentukan price list. Ada kurator yang memberi legitimasi. Ada rekam jejak pameran dan koleksi. Bagi seniman di luar arus utama, seniman harus menjadi manajer, kurator, dan kasir bagi dirinya sendiri. Dan di situlah kebingungan dimulai. 1. Jebakan Psikologi: Takut Kemahalan, Takut Kemurahan Dua rasa takut ini hidup bersamaan. Takut kemahalan: "Kalau saya pasang Rp3 juta, nanti dibilang sombong. Nanti tidak ada yang beli. Nanti dikira sok seniman." Takut kemurahan: "Kalau saya pasang Rp300 ribu, na...