Postingan

Nilai Estetika Seni NFT: Bagaimana Blockchain Mengubah Cara Kita Mengapresiasi Seni Digital?

Gambar
  Nilai Estetika Seni NFT: Bagaimana Blockchain Mengubah Cara Kita Mengapresiasi Seni Digital? Oleh: Haryo SAS Selama ini, nilai estetika karya seni umumnya dikaitkan dengan kualitas visual seperti komposisi, warna, bentuk, teknik, kreativitas, orisinalitas, dan pengalaman emosional yang muncul ketika seseorang berhadapan dengan sebuah karya. Namun, perkembangan seni digital, blockchain, Web3, dan Non-Fungible Token (NFT) menghadirkan perubahan besar dalam cara karya seni diproduksi, dimiliki, diperdagangkan, dan diapresiasi. Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: Apakah nilai estetika seni digital masih hanya ditentukan oleh kualitas visual? Dalam ekosistem NFT, jawabannya tampaknya semakin kompleks. Sebuah karya seni digital tidak lagi hanya dipahami sebagai gambar, video, animasi, atau file digital. Karya tersebut dapat memiliki identitas digital, riwayat kepemilikan, kelangkaan, narasi, komunitas, reputasi seniman, hingga nilai pasar. Dengan kata lain, NFT tidak hanya mengub...

DOSEN BUKAN RELAWAN: KETIKA PENDIDIKAN TINGGI MENUNTUT PROFESIONALISME, TETAPI MENUNDA GAJI

Gambar
DOSEN BUKAN RELAWAN:  KETIKA PENDIDIKAN TINGGI MENUNTUT PROFESIONALISME,  TETAPI MENUNDA GAJI Oleh: Haryo Sas   Ada ironi besar dalam dunia pendidikan tinggi kita. Dosen dituntut profesional, tetapi tidak selalu diperlakukan secara profesional. Dosen diwajibkan mengajar tepat waktu, menyusun perangkat pembelajaran, membimbing mahasiswa, menguji, melakukan penelitian, melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, mengisi berbagai dokumen akademik, dan mendukung akreditasi institusi. Ketika perguruan tinggi berbicara tentang mutu, dosen selalu disebut sebagai ujung tombak. Namun, ketika tiba waktunya memenuhi hak dosen, terutama hak atas penghasilan, sebagian institusi justru meminta dosen untuk “memahami kondisi”. Pertanyaannya: sampai kapan dosen harus memahami, sementara haknya terus ditunda? Persoalan ini bukan perkara kecil. Bagi dosen non-Aparatur Sipil Negara (non-ASN) di Perguruan Tinggi Swasta (PTS), keterlambatan pembayaran gaji dapat menjadi persoa...

VISUALISASI INFORMASI SEBAGAI STRATEGI KOMUNIKASI DALAM MENGURANGI DISINFORMASI DI MEDIA DIGITAL

  Abstrak Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi masyarakat, khususnya dalam proses produksi, distribusi, dan konsumsi informasi. Di satu sisi, media digital memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi secara cepat dan luas, namun di sisi lain juga memunculkan permasalahan serius berupa penyebaran disinformasi. Disinformasi yang beredar melalui media digital dapat memengaruhi persepsi masyarakat, menimbulkan kesalahpahaman, serta memicu konflik sosial. Dalam konteks tersebut, diperlukan strategi komunikasi yang efektif untuk membantu masyarakat memahami informasi secara lebih akurat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah visualisasi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran visualisasi informasi sebagai strategi komunikasi dalam mengurangi disinformasi di media digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis visual terhadap berbagai konten infografis yang dipublika...

Art House Of haryo SAS

Gambar
HARYO SAS: DARI KANVAS, LAYAR, HINGGA RUANG KREATIF Menjaga Ingatan, Membaca Zaman, dan Merawat Gagasan melalui Seni Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ada seniman yang memilih untuk terus berjalan bersama perubahan. Ia tidak berhenti pada kanvas. Ia menyeberang ke layar, video, desain, teknologi digital, ruang pendidikan, dan komunitas. Sosok itu adalah Haryo SAS . Nama artistik tersebut melekat pada Hariyo Seno Agus Subagyo , perupa kelahiran Gunungkidul, 4 Desember 1972, yang kini berbasis di Yogyakarta. Pendidikan seni yang ditempuhnya sejak SMSR Yogyakarta hingga pendidikan tinggi seni membentuk fondasi perjalanan kreatif yang terus berkembang lintas medium. Data kebudayaan Yogyakarta mencatat kiprahnya dalam seni rupa, ilustrasi, dan berbagai karya new media, termasuk video art. Namun, menyebut Haryo SAS hanya sebagai “pelukis” terasa terlalu sempit. Sebab, perjalanan artistiknya menunjukkan sebuah kecenderungan yang lebih luas: keinginan untuk terus menguji bata...