Postingan

KETIKA AI BISA MELUKIS, APA YANG MASIH BISA DILAKUKAN SENIMAN?

Gambar
  Oleh: Haryo SAS Sebuah revolusi sedang berlangsung di dunia seni. Dalam hitungan detik, kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) mampu menghasilkan gambar yang tampak seperti lukisan, ilustrasi, desain, bahkan karya seni dengan tingkat visual yang mengagumkan. Dengan hanya memasukkan beberapa kalimat perintah, seseorang yang tidak pernah belajar menggambar dapat menghasilkan karya visual yang secara teknis sulit dibedakan dari karya manusia. Lalu muncul pertanyaan yang mengganggu: Jika mesin bisa melukis, untuk apa manusia masih perlu menjadi seniman? Pertanyaan ini terdengar seperti ancaman. Namun, mungkin justru di situlah kita perlu melihat kembali hakikat seni. Sebab, seni tidak pernah hanya tentang kemampuan membuat gambar. AI Mampu Membuat Gambar, Tetapi Apakah Ia Mampu Mengalami Kehidupan? AI dapat menghasilkan wajah manusia yang tampak nyata. Ia dapat membuat lanskap yang indah, menciptakan komposisi warna yang menarik, dan meniru berbagai gaya visual. Nam...

AI Mengubah Pendidikan DKV: Saatnya Berhenti Hanya Mengajarkan Software (bagian 2)

Gambar
Oleh: Haryo SAS Artificial Intelligence atau AI kini bukan lagi teknologi masa depan. Ia telah hadir di ruang kelas, studio desain, industri kreatif, bahkan dalam proses berpikir para desainer. Dengan hanya memberikan instruksi melalui teks, seseorang kini dapat menghasilkan ilustrasi, poster, fotografi, desain karakter, animasi, hingga video dalam waktu yang sangat singkat. Proses yang dahulu membutuhkan kemampuan teknis bertahun-tahun kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi AI. Lalu, pertanyaan pentingnya adalah: Apakah pendidikan Desain Komunikasi Visual masih perlu mengajarkan software? Jawabannya: tetap perlu. Namun, tidak boleh berhenti di sana. Ketika AI Bisa Membuat Visual Selama bertahun-tahun, pendidikan Desain Komunikasi Visual atau DKV banyak menempatkan kemampuan menguasai perangkat lunak sebagai kompetensi utama. Mahasiswa belajar menggunakan berbagai aplikasi desain, mengolah gambar, membuat ilustrasi, menyusun layout, mengembangkan identitas visual, mengedit video...

Ketika AI Menggambar Masa Depan Desainer; Dari Visual Producer Menjadi Creative Problem Solver (Bagian 1)

Gambar
Oleh: Haryo Sas Artificial Intelligence (AI) telah memasuki ruang yang selama ini dianggap sebagai wilayah eksklusif manusia: kreativitas. Dengan beberapa kalimat instruksi, kini seseorang dapat menghasilkan ilustrasi, poster, fotografi, desain karakter, video, animasi, hingga berbagai bentuk komunikasi visual dalam hitungan detik. Apa yang dahulu membutuhkan keterampilan bertahun-tahun, perangkat mahal, dan waktu berjam-jam, kini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan. Perubahan ini tentu menimbulkan pertanyaan besar bagi para desainer komunikasi visual: apakah AI akan menggantikan desainer? Pertanyaan tersebut bukan lagi sekadar wacana futuristik. AI generatif telah hadir dalam praktik kerja sehari-hari. Ia membantu menghasilkan alternatif visual, mengembangkan konsep, melakukan eksplorasi gaya, mempercepat proses produksi, bahkan mengotomatisasi sejumlah pekerjaan desain yang sebelumnya dikerjakan manusia. Namun, melihat AI hanya sebagai ancaman bagi profesi desa...

Nilai Estetika Seni NFT: Bagaimana Blockchain Mengubah Cara Kita Mengapresiasi Seni Digital?

Gambar
  Nilai Estetika Seni NFT: Bagaimana Blockchain Mengubah Cara Kita Mengapresiasi Seni Digital? Oleh: Haryo SAS Selama ini, nilai estetika karya seni umumnya dikaitkan dengan kualitas visual seperti komposisi, warna, bentuk, teknik, kreativitas, orisinalitas, dan pengalaman emosional yang muncul ketika seseorang berhadapan dengan sebuah karya. Namun, perkembangan seni digital, blockchain, Web3, dan Non-Fungible Token (NFT) menghadirkan perubahan besar dalam cara karya seni diproduksi, dimiliki, diperdagangkan, dan diapresiasi. Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: Apakah nilai estetika seni digital masih hanya ditentukan oleh kualitas visual? Dalam ekosistem NFT, jawabannya tampaknya semakin kompleks. Sebuah karya seni digital tidak lagi hanya dipahami sebagai gambar, video, animasi, atau file digital. Karya tersebut dapat memiliki identitas digital, riwayat kepemilikan, kelangkaan, narasi, komunitas, reputasi seniman, hingga nilai pasar. Dengan kata lain, NFT tidak hanya mengub...

DOSEN BUKAN RELAWAN: KETIKA PENDIDIKAN TINGGI MENUNTUT PROFESIONALISME, TETAPI MENUNDA GAJI

Gambar
DOSEN BUKAN RELAWAN:  KETIKA PENDIDIKAN TINGGI MENUNTUT PROFESIONALISME,  TETAPI MENUNDA GAJI Oleh: Haryo Sas   Ada ironi besar dalam dunia pendidikan tinggi kita. Dosen dituntut profesional, tetapi tidak selalu diperlakukan secara profesional. Dosen diwajibkan mengajar tepat waktu, menyusun perangkat pembelajaran, membimbing mahasiswa, menguji, melakukan penelitian, melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, mengisi berbagai dokumen akademik, dan mendukung akreditasi institusi. Ketika perguruan tinggi berbicara tentang mutu, dosen selalu disebut sebagai ujung tombak. Namun, ketika tiba waktunya memenuhi hak dosen, terutama hak atas penghasilan, sebagian institusi justru meminta dosen untuk “memahami kondisi”. Pertanyaannya: sampai kapan dosen harus memahami, sementara haknya terus ditunda? Persoalan ini bukan perkara kecil. Bagi dosen non-Aparatur Sipil Negara (non-ASN) di Perguruan Tinggi Swasta (PTS), keterlambatan pembayaran gaji dapat menjadi persoa...

VISUALISASI INFORMASI SEBAGAI STRATEGI KOMUNIKASI DALAM MENGURANGI DISINFORMASI DI MEDIA DIGITAL

  Abstrak Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi masyarakat, khususnya dalam proses produksi, distribusi, dan konsumsi informasi. Di satu sisi, media digital memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi secara cepat dan luas, namun di sisi lain juga memunculkan permasalahan serius berupa penyebaran disinformasi. Disinformasi yang beredar melalui media digital dapat memengaruhi persepsi masyarakat, menimbulkan kesalahpahaman, serta memicu konflik sosial. Dalam konteks tersebut, diperlukan strategi komunikasi yang efektif untuk membantu masyarakat memahami informasi secara lebih akurat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah visualisasi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran visualisasi informasi sebagai strategi komunikasi dalam mengurangi disinformasi di media digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis visual terhadap berbagai konten infografis yang dipublika...