Bagaimana Orang Jawa Belajar Membuat Prambanan?

 




Sebelum ada sekolah seni, mereka belajar dari batu, dari guru, dan dari pekerjaan yang nyata.

Pagi baru saja datang ketika seorang anak laki-laki berdiri di dekat tumpukan batu.

Usianya mungkin belasan tahun.

Di tangannya sebuah alat pemahat. Di hadapannya sebongkah batu yang belum berbentuk apa-apa.

Ia tidak membawa buku.

Tidak ada meja.

Tidak ada papan tulis.

Tidak ada guru yang berdiri di depan kelas.

Di sebelahnya, seorang pemahat yang lebih tua sedang bekerja.

Pemuda itu memperhatikan.

Bagaimana alat dipegang.

Di mana pukulan diarahkan.

Seberapa keras tenaga digunakan.

Kapan harus berhenti.

Ia mencoba.

Salah.

Sang pemahat mengambil alat itu, memperagakan sekali lagi, lalu menyerahkannya kembali.

Pemuda itu mencoba lagi.

Begitulah ia belajar.

Kisah kecil ini bukan catatan sejarah tentang seorang pemahat tertentu. Kita tidak mengetahui siapa nama anak itu atau bagaimana persisnya setiap pemahat Prambanan belajar.

Tetapi gambaran semacam ini membantu kita memahami sebuah pertanyaan yang sering luput ketika kita mengagumi kemegahan Prambanan:

Bagaimana orang Jawa abad ke-9 belajar membuatnya?

Tidak ada sekolah seni

Prambanan dibangun pada masa ketika sistem pendidikan modern belum ada.

Kita tidak mengenal adanya sekolah seni dengan ruang kelas, kurikulum, semester, dan ijazah.

Namun pembangunan kompleks sebesar Prambanan mustahil dilakukan tanpa pengetahuan yang sangat besar.

Ada pengetahuan mengenai batu.

Ada teknik konstruksi.

Ada keterampilan memahat.

Ada pengetahuan tentang bentuk dan ornamen.

Ada pemahaman mengenai cerita dan simbol keagamaan.

Ada pula kemampuan mengorganisasi pekerjaan dalam skala besar.

Prasasti Siwagrha tahun 856 M merupakan salah satu sumber penting yang memberi gambaran tentang kompleks keagamaan tersebut. Prasasti itu juga menyebut pekerjaan yang berkaitan dengan pengaturan aliran sungai di sekitar kawasan bangunan suci.

Jadi, ketika kita berdiri di depan Prambanan, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan akumulasi pengetahuan.

Pertanyaannya: bagaimana pengetahuan itu diwariskan?

Guru yang tidak mengajar dengan papan tulis

Bagi masyarakat abad ke-9, belajar kemungkinan tidak selalu berarti duduk mendengarkan seseorang berbicara.

Banyak keterampilan justru hanya dapat dikuasai dengan melihat dan melakukan.

Seorang calon pemahat harus melihat bagaimana seorang ahli bekerja.

Kemudian mencoba.

Kesalahan diperbaiki.

Gerakan diulang.

Sedikit demi sedikit, tubuhnya mengingat apa yang sebelumnya hanya dilihat oleh matanya.

Inilah bentuk pendidikan yang sekarang kita kenal sebagai pemagangan.

Bukan berarti sistem di Prambanan sama persis dengan sistem magang modern. Kita tidak memiliki dokumen yang menjelaskan strukturnya secara lengkap.

Namun prinsipnya mudah dipahami:

orang yang sudah menguasai keterampilan mengajarkan keterampilan itu kepada orang yang belum menguasainya.

Dan cara terbaik mengajarkannya adalah melalui pekerjaan nyata.

Pelajaran pertama: mengenal batu

Bagi calon pemahat, pelajaran pertama bukanlah membuat wajah dewa.

Pelajaran pertama adalah mengenal material.

Batu mempunyai karakter.

Jika dipukul terlalu keras, ia bisa retak.

Jika alat diarahkan secara keliru, bagian yang tidak diinginkan bisa patah.

Jika terlalu banyak material dihilangkan, kesalahan tidak mudah diperbaiki.

Karena itu seorang pemahat harus belajar mengendalikan tangannya.

Ia harus belajar bahwa setiap pukulan memiliki akibat.

Di sini terjadi sesuatu yang menarik.

Batu menjadi buku pelajaran.

Ia mengajarkan kesabaran.

Ia mengajarkan ketelitian.

Dan ia memaksa manusia memahami batas kemampuannya.

Pelajaran kedua: melihat bentuk

Setelah mengenal material, seorang calon pemahat harus belajar melihat.

Bagaimana bentuk kepala?

Bagaimana hubungan antara tubuh dan anggota badan?

Bagaimana pakaian mengikuti tubuh?

Bagaimana rambut, perhiasan, dan ornamen ditempatkan?

Bagaimana sebuah figur terlihat seimbang?

Hari ini mahasiswa seni mungkin mempelajari anatomi melalui buku, foto, model, atau perangkat digital.

Pada masa lalu, pembelajaran bentuk berlangsung terutama melalui pengamatan dan praktik.

Mata harus terlatih sebelum tangan dapat menghasilkan bentuk yang meyakinkan.

Karena itu pendidikan seni sebenarnya dimulai dari kemampuan melihat.

Pelajaran ketiga: memahami siapa yang dibuat

Tetapi Prambanan membawa pelajaran yang lebih rumit.

Pemahat tidak hanya membuat manusia.

Ia membuat tokoh-tokoh yang memiliki identitas dan makna religius.

Dalam seni keagamaan, bentuk tidak sepenuhnya bebas.

Atribut, posisi, dan karakter visual memiliki arti.

Seorang pembuat arca harus memahami apa yang sedang ia representasikan.

Dengan demikian keterampilan tangan harus bertemu dengan pengetahuan budaya dan keagamaan.

Ia harus mengetahui:

apa yang dibuat, siapa yang dibuat, bagaimana membuatnya, dan mengapa bentuknya demikian.

Inilah sebabnya seni di Prambanan tidak dapat dipisahkan begitu saja dari agama dan pengetahuan.

Relief sebagai pelajaran visual

Coba perhatikan relief Ramayana di Prambanan.

Relief itu bukan sekadar hiasan dinding.

Ia menyampaikan cerita melalui gambar.

Tokoh, gerakan, pakaian, lingkungan, dan susunan adegan membentuk narasi visual.

Bagi masyarakat yang melihatnya, relief dapat menjadi cara untuk memahami cerita dan nilai yang dikandungnya.

Tetapi bagi pembuatnya, relief juga menunjukkan tingkat kemampuan visual yang tinggi.

Mereka harus mampu menerjemahkan cerita menjadi rangkaian gambar.

Mereka harus mengetahui bagian mana yang perlu ditonjolkan.

Mereka harus mengatur ruang.

Mereka harus menjaga kesinambungan adegan.

Dengan kata lain, mereka belajar bukan hanya memahat, tetapi juga berkomunikasi melalui gambar.

Prambanan membutuhkan banyak guru

Kita sering berbicara tentang "pemahat Prambanan" seolah-olah mereka satu kelompok dengan pekerjaan yang sama.

Padahal proyek monumental membutuhkan banyak jenis kemampuan.

Ada yang menguasai konstruksi.

Ada yang mengerjakan batu.

Ada yang membuat arca.

Ada yang mengerjakan relief dan ornamen.

Ada yang memiliki pengetahuan keagamaan.

Ada yang mengatur pekerjaan.

Tidak berarti kita mengetahui struktur organisasi mereka secara rinci. Bukti tertulis yang tersedia tidak memberikan daftar lengkap semacam itu.

Namun hasil akhirnya menunjukkan adanya pembagian pengetahuan dan keterampilan.

Prambanan tidak mungkin lahir dari satu jenis keahlian.

Ketika tempat kerja menjadi sekolah

Di sinilah pendidikan abad ke-9 mungkin berbeda paling jelas dengan pendidikan kita.

Seorang pemuda tidak harus menunggu lulus sekolah untuk mulai mengerjakan pekerjaan nyata.

Ia belajar justru dengan memasuki pekerjaan itu.

Mula-mula pekerjaan sederhana.

Kemudian lebih sulit.

Lalu semakin dipercaya.

Jika berhasil, ia menjadi ahli.

Jika sudah ahli, ia dapat mengajarkan kepada orang lain.

Siklusnya sederhana:

melihat → mencoba → dikoreksi → mengulang → menguasai → mengajarkan.

Begitulah pengetahuan dapat bertahan.

Tidak ada ijazah

Seorang pemahat Prambanan mungkin tidak pernah menerima selembar kertas yang mengatakan:

"Anda telah lulus pendidikan seni."

Tetapi ada ukuran keberhasilan yang jauh lebih nyata.

Karyanya.

Apakah pahatan itu benar?

Apakah bentuknya sesuai?

Apakah detailnya dikerjakan dengan baik?

Apakah ia dapat dipercaya mengerjakan bagian yang lebih sulit?

Dalam masyarakat berbasis keahlian, karya menjadi bukti kemampuan.

Tangan menjadi semacam ijazah.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya

Kita tidak tahu berapa lama seorang pemahat membutuhkan waktu untuk menjadi ahli.

Kita juga tidak memiliki catatan lengkap mengenai nama guru dan muridnya.

Tetapi keterampilan sebesar yang terlihat pada Prambanan tentu tidak lahir dalam satu malam.

Ada pengalaman sebelumnya.

Ada tradisi.

Ada orang-orang yang telah menguasai teknik.

Ada generasi yang meneruskannya.

Dengan demikian, pembangunan Prambanan dapat dipandang sebagai bagian dari rantai pengetahuan yang lebih panjang.

Generasi sebelumnya menyiapkan pengetahuan.

Generasi berikutnya menggunakannya.

Kemudian mereka mewariskannya lagi.

Candi sebagai arsip manusia

Kita sering mengatakan bahwa Prambanan adalah warisan budaya.

Benar.

Tetapi ada sesuatu yang lebih dalam.

Prambanan juga merupakan arsip tentang manusia yang belajar.

Batu-batunya memperlihatkan pengetahuan teknologi.

Reliefnya memperlihatkan pengetahuan visual.

Arca-arca memperlihatkan pengetahuan bentuk dan simbol.

Tata ruangnya memperlihatkan pengetahuan arsitektur dan keagamaan.

Dan keseluruhan kompleks memperlihatkan kemampuan bekerja secara kolektif.

Yang tersimpan di sana bukan hanya karya.

Yang tersimpan adalah pengetahuan.

Mengapa hal ini penting bagi kita?

Karena kita sering menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang baru muncul ketika sekolah dan universitas berdiri.

Padahal manusia telah belajar jauh sebelum itu.

Mereka belajar melalui keluarga.

Melalui pekerjaan.

Melalui tradisi.

Melalui guru.

Melalui lingkungan.

Dan melalui kesalahan.

Prambanan menunjukkan bahwa sebuah masyarakat dapat membangun pengetahuan secara kolektif bahkan tanpa institusi pendidikan modern.

Mereka mungkin tidak memiliki istilah "pendidikan seni".

Tetapi mereka memiliki proses untuk membentuk orang yang mampu menghasilkan seni.

Lebih dari seribu tahun kemudian

Kini seorang mahasiswa seni dapat belajar menggunakan kamera, komputer, perangkat lunak desain, bahkan kecerdasan buatan.

Ia memiliki studio.

Ia memiliki dosen.

Ia memiliki buku.

Ia memiliki internet.

Tetapi ketika membuat sebuah karya, proses dasarnya masih terasa akrab.

Ia melihat.

Ia mencoba.

Ia gagal.

Ia menerima kritik.

Ia memperbaiki.

Ia mencoba lagi.

Kemudian suatu hari ia mampu menghasilkan sesuatu yang sebelumnya belum bisa ia buat.

Peralatannya berubah.

Dunianya berubah.

Tetapi proses belajar manusia tidak sepenuhnya berubah.

Pertanyaan yang tersisa

Maka ketika kita mengunjungi Prambanan, mungkin kita tidak cukup hanya mengagumi tinggi bangunannya atau rumitnya relief.

Cobalah melihat lebih jauh.

Bayangkan tangan yang memegang alat pemahat.

Bayangkan mata yang mengamati bentuk.

Bayangkan seorang ahli yang menunjukkan cara bekerja kepada orang yang lebih muda.

Bayangkan kesalahan yang harus diperbaiki.

Bayangkan pengetahuan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kita tidak mengetahui nama mereka semua.

Namun karya mereka masih ada.

Dan dari karya itu kita dapat membaca satu pesan sederhana:

sebelum sebuah mahakarya berdiri, selalu ada manusia yang terlebih dahulu belajar membuatnya.

Prambanan bukan hanya cerita tentang bagaimana batu disusun menjadi candi.

Ia adalah cerita tentang bagaimana pengetahuan manusia diwariskan hingga mampu mengubah batu menjadi kebudayaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Art House Of haryo SAS

SIAPA YANG MENENTUKAN NILAI SEBUAH KARYA SENI?

KETIKA AI BISA MELUKIS, APA YANG MASIH BISA DILAKUKAN SENIMAN?