Art House Of haryo SAS

HARYO SAS: DARI KANVAS, MONITOR, HINGGA RUANG KREATIF

Menjaga Ingatan, Membaca Zaman, dan Merawat Gagasan melalui Seni

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ada seniman yang memilih untuk terus berjalan bersama perubahan. Ia tidak berhenti pada kanvas. Ia menyeberang ke layar, video, desain, teknologi digital, ruang pendidikan, dan komunitas.

Sosok itu adalah Haryo SAS.

Nama artistik tersebut melekat pada Hariyo Seno Agus Subagyo, perupa kelahiran Gunungkidul, Desember 1972, yang kini berbasis di Yogyakarta. Perjalanan panjangnya memperlihatkan fondasi yang berangkat dari seni rupa, kemudian berkembang menuju seni video, media baru, desain, pendidikan, dan berbagai bentuk eksplorasi kreatif.

Jejak tersebut juga tercatat dalam arsip kebudayaan Yogyakarta. Database Jogja Budaya, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat Hariyo Seno Agus Subagyo sebagai tokoh seniman/budayawan bidang seni rupa. Arsip tersebut turut mendokumentasikan karya-karya yang memperlihatkan rentang eksplorasinya, mulai dari lukisan hingga video art, antara lain Hope, Oplas, Rahwana dan Shinta, Born Around Fire, 5 Smart Girl, Be Happy, Who Are You, serta karya video seperti T-Shirt Trip, Terror, (Nasi)onalisme, I'm Confused, Are You?, Kontemplasi, Penantian, dan Kopi Srawung.

https://jogjabudaya.jogjaprov.go.id/pencarian/hasil/26/5198

Dengan demikian, menyebut Haryo SAS hanya sebagai "pelukis" terasa terlalu sempit. Perjalanan artistiknya menunjukkan kecenderungan yang lebih luas: keinginan untuk terus menguji batas medium dan membaca perubahan zaman melalui bahasa visual.


MASA PENDIDIKAN: MEMBANGUN FONDASI SENI

Ketertarikan Haryo SAS terhadap seni dimulai sejak menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta.

SMSR Negeri jogjakarta 88

Lingkungan pendidikan seni tersebut menjadi salah satu fondasi awal dalam pembentukan kepekaan visual dan praktik penciptaannya. Ketertarikan tersebut kemudian diperdalam melalui pendidikan Strata 1 pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta.

Pendidikan tersebut tidak hanya memberikan dasar akademik mengenai praktik penciptaan seni, tetapi juga mempertemukan seni dengan dunia pendidikan.

Keinginan untuk terus mengeksplorasi medium visual kemudian membawanya melanjutkan studi Magister (S-2) Penciptaan Videografi di Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pada jenjang inilah perhatian artistiknya berkembang semakin jauh ke wilayah seni video, media digital, serta relasi antara seni, teknologi, politik, dan budaya visual kontemporer.

Karya penciptaan seninya berjudul “Repetisi Pencitraan: Relasi Seni Video, Pemilu 2014 dan Kritisme di Ruang Maya.”

https://digilib.isi.ac.id  

https://digilib.isi.ac.id/786/

Judul tersebut memperlihatkan ketertarikannya terhadap hubungan antara seni video, politik, pencitraan, media massa, dan ruang digital.

Di era ketika manusia hidup dalam banjir gambar, persoalan citra menjadi semakin penting.

Politisi membangun citra.

Media mengulang citra.

Masyarakat mengonsumsi citra.

Algoritma mendistribusikan citra.

Dan pada akhirnya, citra sering kali menjadi lebih kuat daripada kenyataan yang hendak direpresentasikannya.

Dalam konteks inilah perjalanan Haryo SAS mulai memperlihatkan perubahan penting: seni tidak lagi hanya dipahami sebagai objek visual, tetapi juga sebagai cara untuk membaca bagaimana realitas dibentuk oleh gambar.


CERIА, DE VERRE NAASTEN, DAN JEJAK ILUSTRASI ALKITAB

Dari Gambar sebagai Cerita menuju Seni Religius dalam Konteks Indonesia

Salah satu lapisan penting dalam perjalanan awal Haryo SAS berada pada persinggungannya dengan seni religius, ilustrasi Alkitab, dan kerja kebudayaan Kristen di Indonesia. Jejak ini memperlihatkan bahwa sebelum dikenal luas melalui eksplorasi seni video, media baru, dan seni kontemporer, Haryo SAS telah berhadapan dengan persoalan mendasar dalam komunikasi visual: bagaimana sebuah kisah, tokoh, nilai, dan pengalaman iman diterjemahkan menjadi gambar yang dapat dipahami dan dihayati oleh masyarakat.

Jejak tersebut berkaitan dengan CeriA dan De Verre Naasten Nederland. CeriA berkembang sebagai sebuah upaya menghadirkan cerita-cerita Alkitab melalui bahasa visual yang lebih dekat dengan konteks masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya, proyek ini melibatkan kerja sama dengan seniman dan mitra di Indonesia, sehingga ilustrasi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap teks, tetapi menjadi bagian penting dari cara cerita Alkitab dikomunikasikan kepada pembaca.

Dalam konteks tersebut, nama Haryo SAS—dengan nama lengkap Hariyo Seno Agus Subagyo—perlu ditempatkan secara hati-hati. Tidak semua edisi buku CeriA yang berhasil ditemukan mencantumkan nama ilustrator individual. Beberapa publikasi menggunakan atribusi institusional seperti Yayasan CeriA. Karena itu, keterlibatan Haryo SAS tidak tepat dinyatakan hanya berdasarkan keberadaan namanya pada sebuah buku apabila bukti atribusinya belum eksplisit.

Namun, terdapat bukti dokumenter yang lebih kuat mengenai hubungan Haryo SAS dengan pihak yang mewakili De Verre Naasten. Dalam Surat Pengalihan Hak Cipta bertanggal 4 Maret 2020, Hariyo Seno Agus Subagyo secara eksplisit menyatakan dirinya sebagai pencipta sebuah seri yang terdiri atas sembilan lukisan bertema tokoh dan kisah Alkitab, yaitu Salomo, Yesus di Padang Gurun, Nain, Penyembuhan di Kolam Betesda, Yesus Berjalan di atas Air, Penabur, Petrus, Saulus, dan Paulus.

Surat tersebut juga mencatat bahwa hak atas ciptaan sembilan lukisan tersebut dialihkan kepada Janneke de Vries-Wiersma, warga negara Belanda, yang bertindak sesuai kewenangannya mewakili De Verre Naasten Netherlands. Dokumen tersebut ditandatangani di Malang pada 4 Maret 2020 dan memuat tanda tangan kedua pihak. Secara dokumenter, bukti ini penting karena memberikan hubungan yang jelas antara Haryo SAS sebagai pencipta karya visual bertema Alkitab dan De Verre Naasten sebagai pihak penerima pengalihan hak.

Sembilan judul tersebut juga memperlihatkan rentang narasi Alkitab yang cukup luas. Salomo dan Paulus membawa persoalan kepemimpinan, iman, dan transformasi; Petrus dan Saulus menghadirkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Kekristenan; sementara Yesus di Padang Gurun, Penyembuhan di Kolam Betesda, Yesus Berjalan di atas Air, Nain, dan Penabur berangkat dari kisah-kisah kehidupan serta pelayanan Yesus. Dengan demikian, karya-karya tersebut dapat dipahami bukan sekadar sebagai lukisan bertema religius, tetapi sebagai upaya menerjemahkan narasi Alkitab ke dalam bahasa visual.

Di sinilah pengalaman ilustrasi dan seni religius menjadi relevan bagi perkembangan praktik Haryo SAS. Dalam ilustrasi Alkitab, gambar harus melakukan lebih dari sekadar menghadirkan bentuk yang indah. Gambar harus membantu pembaca mengenali tokoh, memahami peristiwa, merasakan suasana, dan mengingat alur cerita. Warna, gestur, ekspresi, ruang, komposisi, serta simbol visual bekerja bersama untuk membangun jembatan antara teks dan pengalaman visual.

Pengalaman tersebut memiliki arti penting jika dilihat dari perspektif desain komunikasi visual. Sebuah gambar dapat berfungsi sebagai bahasa. Ia menyederhanakan informasi yang kompleks, membangun daya ingat, mengarahkan perhatian, dan membantu audiens memasuki sebuah narasi. Dalam konteks cerita Alkitab, tugas tersebut menjadi semakin kompleks karena narasi yang berasal dari tradisi Timur Tengah dan sejarah panjang ikonografi Kristen harus diterjemahkan agar dapat diterima dalam konteks budaya Indonesia.

Persoalan kontekstualisasi visual inilah yang kemudian menemukan perkembangan lebih jauh dalam karya-karya religius Haryo SAS. Jika ilustrasi Alkitab menuntut gambar untuk membantu menceritakan sebuah kisah, maka karya-karya tentang Kristus membuka kemungkinan lain: gambar tidak hanya menceritakan, tetapi juga menafsirkan. Figur religius dapat dibaca melalui pengalaman budaya tempat seniman hidup.

Hubungan tersebut menjadi semakin menarik ketika karya Haryo SAS kemudian dibaca dalam penelitian akademik berjudul “Kristus Jawa: Kajian Kritis Perspektif Seni Religius terhadap Rekonstruksi Kristologi dalam Lukisan Karya Haryo S. A. Subagyo”. Kajian tersebut menempatkan lukisan Haryo SAS dalam konteks seni religius Kristen dan membahas kemungkinan representasi Kristus melalui perspektif budaya Jawa.

Jika CeriA dan jejak De Verre Naasten menunjukkan pengalaman Haryo SAS dalam menerjemahkan narasi Alkitab melalui bahasa visual, maka gagasan “Kristus Jawa” memperlihatkan perkembangan persoalan menuju wilayah interpretasi budaya dan Kristologi. Di sini terjadi pergeseran yang menarik: dari bagaimana gambar membantu orang memahami cerita Alkitab, menuju bagaimana seorang seniman memahami dan merepresentasikan figur Kristus melalui konteks budaya yang dihayatinya.

Dengan demikian, hubungan antara CeriA, De Verre Naasten, dan karya religius Haryo SAS sebaiknya tidak dibaca sebagai tiga episode yang terpisah. Ketiganya dapat dilihat sebagai bagian dari satu garis perkembangan pemikiran visual: gambar sebagai media komunikasi, gambar sebagai penerjemah budaya, dan gambar sebagai ruang refleksi iman.

Dalam perjalanan artistiknya, pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi yang kemudian memungkinkan Haryo SAS bergerak lebih jauh ke berbagai medium. Ia belajar bahwa gambar tidak hanya memiliki persoalan estetika, tetapi juga memiliki tanggung jawab komunikatif. Ia dapat menjadi alat untuk bercerita, mengingat, mengajar, membangun identitas, dan mempertanyakan kembali makna yang telah dianggap mapan.

Dari sudut pandang inilah jejak CeriA dan De Verre Naasten memiliki posisi penting dalam profil Haryo SAS. Ia memperlihatkan fase ketika praktik seni bersentuhan langsung dengan kebutuhan komunikasi publik, pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan religius. Pengalaman tersebut kemudian menemukan kesinambungan dalam perjalanan akademik dan artistiknya: dari ilustrasi menuju lukisan religius, dari representasi menuju interpretasi, dan selanjutnya dari gambar menuju eksplorasi citra dalam seni video dan media baru.

Dengan kata lain, perjalanan Haryo SAS tidak semata-mata bergerak dari satu medium ke medium lainnya. Ia juga bergerak dari satu cara memahami gambar menuju cara memahami gambar yang semakin kompleks. Gambar mula-mula menjadi sarana untuk menceritakan. Kemudian menjadi sarana untuk menafsirkan. Pada tahap berikutnya, gambar menjadi sarana untuk mempertanyakan bagaimana manusia membangun ingatan, identitas, iman, dan realitas melalui citra.

Jejak inilah yang membuat fase CeriA dan De Verre Naasten layak ditempatkan dalam narasi besar perjalanan Haryo SAS: sebagai salah satu titik awal penting dalam pertemuan antara seni rupa, ilustrasi, komunikasi visual, pendidikan, kebudayaan, dan spiritualitas—sebuah pengalaman yang kemudian berkembang menjadi praktik artistik lintas medium yang terus dijalani hingga hari ini.




https://www.zendingserfgoed.nl/

https://christelijknieuws.nl/

https://christelijknieuws.nl/

https://christelijknieuws.nl/

https://christelijknieuws.nl/


DARI CERIA MENUJU PERTANYAAN TENTANG KRISTUS

Jika CeriA memperlihatkan bagaimana cerita Alkitab dapat divisualisasikan agar dekat dengan masyarakat Indonesia, maka karya-karya religius Haryo SAS membuka pertanyaan yang lebih jauh:
Bagaimana figur Kristus sendiri dibayangkan melalui kebudayaan tempat seorang seniman hidup?
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi objek kajian akademik.


Pada 2018, Libna Constansye Kaisuku melakukan penelitian berjudul:
Kristus Jawa: Kajian Kritis Perspektif Seni Religius terhadap Rekonstruksi Kristologi dalam Lukisan Karya Haryo S. A. Subagyo.
Penelitian tersebut menempatkan karya Haryo SAS dalam sejarah panjang seni religius Kristen, mulai dari seni kekristenan mula-mula hingga seni abad pertengahan dan perkembangan seni modern.
Dalam tradisi tersebut, gambar Kristus bukan sekadar hiasan.
Citra Kristus telah digunakan umat Kristen untuk menghayati iman dan spiritualitas. Kristus hadir dalam berbagai representasi: sebagai Gembala yang Baik, Raja, Hakim, dan berbagai bentuk penghayatan lainnya.
Namun perkembangan seni modern membuka kemungkinan baru.
Kristus tidak lagi harus selalu digambarkan dengan wajah Eropa.
Ia dapat direpresentasikan sesuai dengan konteks budaya seniman.
Dalam penelitian tersebut, karya Haryo Seno Agus Subagyo dibaca sebagai contoh representasi Kristus berwajah Jawa

https://www.bibleinmylanguage.com/

KRISTUS JAWA: KETIKA IMAN BERTEMU IDENTITAS BUDAYA

Konsep Kristus Jawa menjadi penting karena persoalannya bukan sekadar mengganti wajah Kristus menjadi wajah orang Jawa.
Yang lebih penting adalah pertanyaan mengenai bagaimana pengalaman budaya memengaruhi cara seorang seniman menghayati dan merepresentasikan Kristus.
Penelitian tersebut, misalnya, membandingkan gagasan Yesus Raja dalam representasi Haryo SAS dengan representasi Kristus sebagai Raja dalam seni abad pertengahan.
Bentuk visualnya dapat berbeda.
Bahasa budayanya dapat berbeda.
Konteks sosialnya dapat berbeda.
Tetapi pertanyaannya tetap sama:
Bagaimana Kristus dipahami sebagai Raja?
Di sinilah terjadi pertemuan antara Kristologi dan seni rupa.
Representasi visual dapat berubah mengikuti kebudayaan, sementara penghayatan terhadap identitas Kristus tetap menjadi inti yang dipertahankan.
Dengan demikian, Kristus Jawa dapat dipahami sebagai bentuk kontekstualisasi visual.
Kristus tidak hanya dilihat melalui warisan ikonografi Barat, tetapi juga melalui pengalaman budaya Jawa. 

https://repository.uksw.edu/

DARI ILUSTRASI KE REKONSTRUKSI

Jika kedua jejak tersebut dibaca berdampingan, terlihat adanya perkembangan yang menarik dalam hubungan Haryo SAS dengan seni religius.
CeriA menempatkan gambar sebagai sarana menceritakan kisah Alkitab.
Sementara karya-karya yang kemudian dikaji dalam Kristus Jawa menempatkan gambar sebagai sarana merefleksikan kembali identitas dan makna figur Kristus.
Dengan kata lain:
Dari menceritakan Kristus, menuju mempertanyakan bagaimana Kristus dibayangkan.
Dari:
storytelling
menuju:
interpretasi.
Dari:
ilustrasi
menuju:
refleksi artistik.
Dan dari:
representasi
menuju:
rekonstruksi.
Perkembangan ini penting karena menunjukkan bahwa praktik Haryo SAS tidak hanya berhubungan dengan kemampuan membuat gambar, tetapi juga dengan persoalan bagaimana gambar menghasilkan makna.

https://library.sttrii.ac.id/

https://repository.uph.edu/

SENI SEBAGAI RUANG PERTEMUAN

Dalam perspektif yang lebih luas, CeriA dan Kristus Jawa memperlihatkan dua sisi dari hubungan Haryo SAS dengan seni religius.
Pada satu sisi terdapat komunikasi.
Bagaimana gambar membantu seseorang memahami sebuah cerita.
Pada sisi lain terdapat refleksi.
Bagaimana gambar membuat seseorang mempertanyakan kembali identitas, budaya, dan makna sebuah figur religius.
Di antara keduanya terdapat satu kesamaan:
gambar menjadi bahasa.
Bahasa untuk bercerita.
Bahasa untuk mengingat.
Bahasa untuk mempertanyakan.
Dan akhirnya, bahasa untuk membangun dialog antara agama, seni, dan kebudayaan.

DARI KRISTUS YANG DIGAMBAR KE KRISTUS YANG DIHAYATI

Jejak CeriA–Verre Naasten dan kajian Kristus Jawa karena itu dapat ditempatkan sebagai salah satu fase penting dalam perkembangan pemikiran visual Haryo SAS.
CeriA memperlihatkan pengalaman seni sebagai komunikasi religius.
Sementara Kristus Jawa memperlihatkan bagaimana karya Haryo kemudian dapat dibaca sebagai persoalan seni religius, identitas budaya, dan Kristologi kontekstual.
Keduanya tidak harus dipahami sebagai satu proyek yang sama.
Namun keduanya memperlihatkan sebuah kesinambungan tema:
bagaimana kisah dan figur religius diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang hidup di tengah kebudayaan Indonesia.
Dari sini, perjalanan Haryo SAS kemudian bergerak lebih jauh.
Jika sebelumnya ia menggunakan gambar untuk menceritakan, ia kemudian menggunakan video untuk mengamati.
Jika sebelumnya ia mengolah figur dan simbol, ia kemudian mengeksplorasi citra, gerak, waktu, politik, teknologi, dan ruang digital. 

2014 — TROPICAL LAB 8: PORT OF CALL

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan internasional Haryo SAS terjadi pada Tropical Lab 8: Port of Call yang diselenggarakan oleh LASALLE College of the Arts, Singapura, pada 24 Juli–7 September 2014.

Program tersebut merupakan perpaduan antara art camp, residensi artistik, dan pameran internasional yang mempertemukan mahasiswa pascasarjana, seniman muda, serta praktisi seni dari berbagai negara untuk berkolaborasi, berdiskusi, melakukan riset, dan mengembangkan karya dalam lingkungan lintas budaya.

Dalam forum tersebut, Haryo SAS mengembangkan karya seni video berjudul I'm Confused, Are You?

Karya tersebut mengeksplorasi persoalan identitas, komunikasi, persepsi, dan pengalaman manusia ketika berhadapan dengan perubahan sosial dan budaya di tengah masyarakat global.

Partisipasi dalam Tropical Lab 8 menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan artistiknya. Pengalaman tersebut menandai semakin kuatnya pergeseran eksplorasi kreatif dari medium lukis menuju seni video dan media baru.

Perubahan medium tersebut bukan semata-mata perubahan alat.

Ia merupakan perubahan cara berpikir.

Pada lukisan, seniman bekerja dengan ruang, warna, tekstur, dan komposisi. Pada video, hadir dimensi waktu, suara, gerak, pengulangan, serta pengalaman audiovisual.

Dari sinilah perjalanan Haryo SAS mulai semakin jelas bergerak:

Dari gambar sebagai objek menuju gambar sebagai pengalaman.

 https://drlib.lasalle.edu.sg/

web.facebook.com




Hariyo Seno Agus Subayo

I'm confused, are you?
digital video, colour, sound
3 minutes



2018 — NANDUR SRAWUNG: SRAWUNG SARUJUK

Pada 2018, Haryo SAS berpartisipasi dalam Nandur Srawung 2018, sebuah pameran seni lintas generasi yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta.

Dokumentasi pembukaan pameran pada 26 Agustus 2018 yang dipublikasikan melalui akun Instagram Haryo SAS menunjukkan presentasi karya dalam konteks new media art dan video art, dengan penanda karya “Polisini”. Dokumentasi tersebut memperlihatkan salah satu fase penting dalam eksplorasi Haryo SAS terhadap medium berbasis gambar bergerak dan teknologi digital.

Kehadiran Nandur Srawung menjadi penting dalam perjalanan artistiknya karena mempertemukan praktik seni dengan gagasan srawung—bertemu, berbagi, dan membangun relasi melalui seni. Pengalaman ini memperlihatkan kesinambungan eksplorasi Haryo SAS terhadap seni media baru sekaligus keterlibatannya dalam ruang seni Yogyakarta yang mempertemukan lintas generasi dan komunitas.

Pameran: Nandur Srawung 2018 — Srawung Sarujuk
Tempat: Taman Budaya Yogyakarta
Tahun: 2018
Medium/konteks: New Media Art / Video Art
Karya: Polisini
Dokumentasi: Instagram @haryo_sas, 26 Agustus 2018

2019 — TO REMEMBER: SENI SEBAGAI RUANG INGATAN

Setelah perjalanan eksplorasi media dan pengalaman internasional, salah satu momentum penting dalam perjalanan Haryo SAS hadir melalui pameran bersama To Remember di Bentara Budaya Yogyakarta pada 2019.

Pameran tersebut menjadi ruang refleksi mengenai ingatan, pengalaman hidup, serta relasi manusia dengan lingkungan sosial dan budayanya.

Bagi Haryo SAS, gagasan tentang ingatan kemudian menjadi salah satu kata penting dalam perjalanan artistiknya.

Apa yang kita ingat?

Apa yang kita lupakan?

Bagaimana pengalaman hidup berubah menjadi citra?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan seni lebih dari sekadar persoalan keindahan visual.

Pengalaman personal dan lingkungan sosial tidak berdiri sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya saling berkelindan. Kehidupan sehari-hari, masyarakat, budaya, politik, humor, spiritualitas, hingga pengalaman manusia dapat menemukan bentuknya melalui garis, warna, gambar, dan gerak.

Dalam pengertian tersebut, seni menjadi cara untuk menyimpan pengalaman sekaligus membaca kembali perubahan kehidupan.

https://www.impessa.id

https://gudeg.net

https://kagama.co

https://www.antarafoto.com

https://www.bentarabudaya.com/agenda/

Pada 2019, jejak Haryo SAS juga tercatat dalam dokumentasi Tanda Mata XIII Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Nama Haryo SAS tercantum dalam dokumentasi Bentara Budaya sebagai salah satu seniman yang aktif mengikuti berbagai pameran, baik pameran bersama maupun pameran tunggal di Yogyakarta. Profil tersebut secara eksplisit mencantumkan sumber Tanda Mata XIII BBY 2019.

https://www.bentarabudaya.com

https://www.indoartnow.com/exhibitions/tanda-mata-xiii

https://www.bentarabudaya.com/seniman/397/haryo-sas


2019 — SKETSAFORIA URBAN: SKETSA SEBAGAI CARA MEMBACA KOTA

Pada tahun yang sama, jejak Haryo SAS juga tercatat dalam Festival Sketsa Indonesia “Sketsaforia Urban” 2019.

Dalam katalog festival, namanya tercatat sebagai Hariyo Seno Agus Subagyo (Haryo SAS), sebagai perupa sekaligus akademisi yang aktif mengajar di bidang seni di Yogyakarta.

Dalam praktiknya, ia tidak hanya berkarya melalui seni media baru, tetapi juga menghasilkan karya lukis dan desain grafis.

Katalog Sketsaforia Urban memperlihatkan ketertarikannya pada arsitektur, sketsa, perspektif, dan anatomi manusia.

Sketsa menjadi bagian dari kebiasaan mengamati lingkungan secara langsung: merekam bentuk bangunan, suasana ruang, manusia, serta dinamika kehidupan sehari-hari melalui garis dan gestur.

Pada halaman 220 katalog, karya Haryo SAS dideskripsikan sebagai akrilik di atas kertas dengan ukuran pigura 55 × 45 cm.

Gagasan karya tersebut berangkat dari hiruk-pikuk pasar tradisional di wilayah Yogyakarta sisi utara, sebuah ruang sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang manusia. Lingkungan kampus juga hadir sebagai ruang perjumpaan, tempat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia berinteraksi dan membentuk pengalaman sosial yang beragam.

Pengalaman Sketsaforia Urban memperlihatkan bahwa sketsa bagi Haryo SAS bukan sekadar aktivitas menggambar.

Sketsa adalah cara melihat.

Cara mengamati.

Cara memahami ruang kehidupan.

Garis menjadi alat untuk menangkap apa yang sering luput dari perhatian: ritme kota, arsitektur, keramaian pasar, tubuh manusia, dan hubungan antarmanusia.

Jejak ini menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan kreatifnya. Dari sketsa dan lukisan, ia terus bergerak menuju video art, seni digital, desain, multimedia, pendidikan, dan teknologi kreatif.

Medium berubah.

Namun kebiasaan dasarnya tetap sama:

mengamati, merekam, menafsirkan, dan mengubah pengalaman menjadi gagasan visual.

https://repositori.kemendikdasmen.go.id


2020 — GBSRI: Corona Part 2

Di tengah pandemi COVID-19, Haryo SAS mengikuti Pameran Corona Part 2 — Perupa Nusantara Lawan Corona, sebuah pameran seni rupa berbasis daring yang diselenggarakan GBSRI pada 15 Mei–30 Juni 2020| Pameran Online

Pada masa awal pandemi COVID-19, ketika ruang-ruang seni mengalami pembatasan aktivitas, GBSRI menyelenggarakan Pameran Corona Part 2 bertajuk “Perupa Nusantara Lawan Corona” sebagai ruang alternatif bagi para perupa untuk tetap berkarya dan berkomunikasi melalui medium digital.

Pameran online ini berlangsung pada 15 Mei–30 Juni 2020 dan mempertemukan perupa dari berbagai daerah di Indonesia, serta sejumlah seniman internasional. Dalam daftar peserta resmi GBSRI tercatat Haryo SAS (Sleman) bersama puluhan perupa lainnya. �


2021 — TROPICAL LAB 15: INTERDEPENDENCIES

Perjalanan internasional tersebut berlanjut ketika Haryo SAS kembali terpilih sebagai salah satu seniman dalam Tropical Lab 15 pada 2021 dengan tema Interdependencies atau saling ketergantungan.

Tema tersebut mengajak para peserta menelaah berbagai bentuk hubungan yang saling memengaruhi: antara manusia, lingkungan, teknologi, budaya, dan sistem sosial.

Tema tersebut menjadi semakin relevan dalam situasi pandemi global.

Dalam edisi ini, Haryo SAS menampilkan karya seni video digital berdurasi 1 menit 31 detik berjudul Alienation.

Karya tersebut merekam pengalaman keterasingan, kecemasan, dan isolasi sosial yang dialami masyarakat Jakarta pada masa pandemi COVID-19.

Melalui bahasa visual yang sederhana namun reflektif, Alienation menangkap perubahan relasi antarmanusia ketika menjaga jarak fisik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Lebih dari sekadar dokumentasi situasi pandemi, karya tersebut mengajak penonton merefleksikan makna kebersamaan, keterhubungan, dan paradoks kehidupan modern.

Manusia semakin terhubung melalui teknologi digital, tetapi pada saat yang sama dapat mengalami keterasingan dalam ruang sosialnya.

Di tengah kondisi tersebut, seni hadir sebagai medium untuk membaca ulang pengalaman kolektif sekaligus merekam jejak emosional sebuah zaman.

Partisipasi Haryo SAS dalam dua edisi Tropical Lab memperlihatkan konsistensinya dalam mengembangkan praktik seni berbasis media baru sekaligus merespons isu sosial, budaya, teknologi, dan kemanusiaan melalui pendekatan visual yang kritis, reflektif, dan kontekstual.

https://issueartsjournal.com




Hariyo Seno Agus Subagyo, Alienation, 2021, digital video, 1:31 mins


2022 — PAMERAN AMAL LUKISAN DI AVETA HOTEL MALIOBORO

Pada 2022, Haryo SAS turut berpartisipasi dalam Pameran Amal Lukisan Pelukis Kenamaan yang diselenggarakan dalam rangka HUT ke-3 Aveta Hotel Malioboro, Yogyakarta.

Pameran tersebut berlangsung di Kalla Jumpa Cafe, lantai 1 Aveta Hotel, Jalan Malioboro 42, Yogyakarta.

Kehadiran dalam pameran ini menunjukkan bahwa meskipun eksplorasi artistiknya telah berkembang ke seni video, media baru, desain, dan teknologi kreatif, hubungan Haryo SAS dengan seni rupa dan praktik melukis tetap berlangsung.

Kanvas tidak ditinggalkan.

Ia justru menjadi salah satu bagian dari perjalanan yang terus berdialog dengan medium-medium baru.


23 Pameran Sleman Berbudaya Trapsila 

Pada tahun 2023, Haryo SAS terlibat dalam Pameran Sleman Berbudaya Trapsila yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman pada 14–17 September 2023 di Museum Monumen Yogya Kembali, Yogyakarta.

Mengusung konsep Trapsila yang merepresentasikan nilai tembayatan, prasaja, sembada, dan welas asih, pameran ini menjadi ruang pertemuan antara seni, kebudayaan, identitas lokal, serta upaya pelestarian Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Sleman.

Keterlibatan Haryo SAS dalam pameran ini menjadi bagian dari perjalanan praktik artistiknya yang tidak hanya bergerak dalam wilayah seni rupa, tetapi juga bersinggungan dengan persoalan budaya, ingatan, identitas, dan kehidupan masyarakat. Dalam konteks tersebut, seni diposisikan sebagai medium untuk membaca kembali nilai-nilai budaya lokal dan menghadirkannya dalam bahasa visual yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Pameran Sleman Berbudaya Trapsila memperlihatkan bagaimana praktik seni dapat berperan dalam proses interpretasi, transmisi, dan komunikasi nilai budaya, sekaligus mempertemukan ekspresi personal seniman dengan agenda pelestarian kebudayaan di tingkat daerah.

Penyelenggara: Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman
Tempat: Museum Monumen Yogya Kembali, Yogyakarta
Tanggal: 14–17 September 2023

https://jogja.tribunnews.com/

https://budaya.jogjaprov.go.id/

2024 — GENESIS ART EXHIBITION

Pada 3 November 2024, Haryo SAS turut hadir dalam pembukaan pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh Komunitas Seni Konco Kedaton bekerja sama dengan Hotel Melia Purosani Yogyakarta.

Pameran tersebut dikenal dengan tajuk GENESIS ART EXHIBITION.

Keterlibatannya dalam kegiatan seni rupa pada 2024 memperlihatkan kesinambungan hubungan Haryo SAS dengan ekosistem seni, komunitas, dan ruang pamer.

Jika perjalanan sebelumnya memperlihatkan perluasan medium dan pengalaman internasional, maka keterlibatan dalam komunitas menunjukkan dimensi lain yang semakin penting: seni sebagai ruang pertemuan.

https://www.instagram.com/reels/

https://www.instagram.com/


PAMERAN SEBAGAI RUANG DIALOG

Bagi Haryo SAS, pameran bukan sekadar tempat memajang karya.

Pameran merupakan ruang dialog antara seniman, karya, dan publik.

Perjalanan dari pameran bersama To Remember, Sketsaforia Urban, Tropical Lab, pameran amal di Aveta, hingga Genesis Art Exhibition memperlihatkan bahwa karya seni tidak pernah benar-benar selesai ketika meninggalkan studio.

Ia terus hidup ketika bertemu dengan penonton.

Di sanalah karya mendapatkan kemungkinan pembacaan baru.

Pameran menjadi ruang di mana pengalaman personal bertemu dengan pengalaman publik. Gagasan seniman bertemu dengan interpretasi penonton. Karya menjadi jembatan antara apa yang ingin disampaikan dan apa yang kemudian dibaca oleh masyarakat.

https://jogja.tribunnews.com/


SENIMAN YANG MEMILIH UNTUK MENGAJAR

Perjalanan Haryo SAS tidak berhenti di ruang pamer.

Ia juga hadir di ruang pendidikan.

Sebagai dosen di bidang seni dan desain komunikasi visual, ia berhadapan dengan generasi yang hidup dalam dunia berbeda dari generasi sebelumnya—generasi yang tumbuh bersama smartphone, media sosial, animasi, gim, kecerdasan buatan, dan budaya visual yang bergerak tanpa henti.

Di ruang kelas, pengalaman sebagai seniman bertemu dengan kebutuhan pendidikan.

Seni bertemu teknologi.

Gagasan bertemu keterampilan.

Kreativitas bertemu disiplin.

Di sinilah posisi Haryo SAS menjadi menarik.

Ia bukan hanya orang yang membuat karya, tetapi juga seseorang yang berusaha membantu generasi baru memahami bagaimana karya diciptakan, dipikirkan, dan dikomunikasikan.

Pengalaman artistik tidak berhenti menjadi pengalaman personal.

Ia ditransformasikan menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan.

https://arkeologi.fib.ugm.ac.id 

https://repository.uksw.edu

https://jurnaladat.or.id

https://jurnaladat.or.id

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/


Seruan persatuan dan kesatuan di Bulaksumur UGM (Foto: Usman Hadi/detikcom)




DARI KANVAS MENUJU LAYAR

Jika seluruh perjalanan tersebut dibaca sebagai satu kesatuan, terlihat adanya transformasi yang konsisten.

Haryo SAS bergerak dari seni rupa, ilustrasi, dan sketsa menuju video art, new media, desain, pendidikan, dan teknologi kreatif.

Namun perpindahan tersebut bukan sekadar perpindahan medium.

Ia adalah perpindahan cara berpikir.

Kanvas memiliki ruang.

Video memiliki waktu.

Gambar memiliki komposisi.

Video memiliki gerak.

Lukisan memiliki tekstur.

Media digital menghadirkan kemungkinan interaksi dan transformasi.

Karena itu, perjalanan Haryo SAS tidak tepat dibaca sebagai meninggalkan medium lama untuk mengejar medium baru.

Lebih tepat jika perjalanan tersebut dipahami sebagai perluasan bahasa visual.

Satu medium membuka kemungkinan bagi medium lainnya.


MEMBACA CITRA DI ERA POLITIK DAN MEDIA

Perhatian terhadap citra menjadi semakin penting ketika Haryo SAS menempuh studi magister di Pascasarjana ISI Yogyakarta.

Karya penciptaan “Repetisi Pencitraan: Relasi Seni Video, Pemilu 2014 dan Kritisme di Ruang Maya” memperlihatkan ketertarikannya terhadap hubungan antara seni video, politik, pencitraan, media massa, dan ruang digital.

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan dalam kehidupan kontemporer.

Manusia hidup dalam banjir gambar.

Politisi membangun citra.

Media mengulang citra.

Masyarakat mengonsumsi citra.

Algoritma mendistribusikan citra.

Dalam situasi demikian, gambar bukan lagi sekadar representasi realitas.

Gambar dapat membentuk realitas.

Di sinilah praktik artistik Haryo SAS dapat dibaca sebagai usaha untuk mengamati, mengolah, sekaligus mempertanyakan bagaimana realitas dibentuk melalui citra.


ART HOUSE OF HARYO SAS:

KETIKA RUMAH MENJADI EKOSISTEM

Dari perjalanan tersebut kemudian muncul gagasan yang lebih besar: Art House of Haryo SAS.

Jika Haryo SAS adalah identitas personal seorang seniman, maka Art House dapat menjadi rumah bagi berbagai aktivitas kreatif.

Sebuah rumah dalam pengertian yang lebih luas.

Bukan hanya tempat tinggal.

Bukan hanya studio.

Melainkan ruang untuk menciptakan karya, mengembangkan gagasan, melakukan eksperimen visual, mendiskusikan seni, mendidik generasi baru, mengembangkan desain dan branding, mengeksplorasi teknologi digital, serta mempertemukan seniman, desainer, mahasiswa, peneliti, dan komunitas kreatif.

Art House of Haryo SAS menjadi gagasan tentang sebuah ekosistem.

Di dalamnya seni tidak hanya dipamerkan.

Seni diproduksi.

Dipelahari.

Diperdebatkan.

Dikembangkan.

Dan dihubungkan dengan kehidupan.

Dengan demikian, perjalanan Haryo SAS memasuki tahap baru: dari praktik individual menuju kemungkinan ekosistem kreatif.


HARYO SAS DAN MASA DEPAN SENI

Di era kecerdasan buatan, NFT, realitas virtual, metaverse, dan teknologi generatif, dunia seni kembali menghadapi pertanyaan besar:

Apa yang sebenarnya membuat sebuah karya menjadi karya seni?

Apakah medianya?

Apakah teknologinya?

Apakah keterampilan tangan?

Atau justru gagasan yang mendasarinya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut relevan dengan perjalanan Haryo SAS.

Sebab sejak awal, ia telah bergerak di antara berbagai medium.

Dari seni rupa.

Ilustrasi.

Sketsa.

Video art.

New media.

Desain.

Pendidikan.

Hingga penelitian artistik.

Mungkin justru di situlah kekuatan utamanya.

Ia tidak terikat pada satu alat.

Ia terikat pada gagasan.

Medium dapat berubah.

Teknologi dapat berganti.

Namun kebutuhan manusia untuk menciptakan, mengingat, mempertanyakan, dan berkomunikasi melalui gambar akan selalu ada.


SAS: SENI, ADAPTASI, SINTESIS

Ada satu kemungkinan menarik dalam membaca identitas Haryo SAS.

Inisial SAS tidak hanya dapat dipahami sebagai bagian dari nama.

Ia juga dapat dimaknai sebagai filosofi perjalanan kreatif.

S — Seni

Seni sebagai fondasi kehidupan dan cara membaca dunia.

A — Adaptasi

Kemampuan untuk terus belajar, berkembang, dan beradaptasi terhadap perubahan zaman serta teknologi.

S — Sintesis

Kemampuan menghubungkan seni, desain, pendidikan, penelitian, teknologi, dan budaya menjadi satu ekosistem kreatif.

Dengan demikian, Haryo SAS dapat dipahami melalui tiga kata:

Seni. Adaptasi. Sintesis.

Ketiganya menggambarkan perjalanan yang tidak berhenti pada satu medium, satu profesi, atau satu bentuk ekspresi.


DARI KANVAS MENUJU EKOSISTEM

Pada akhirnya, perjalanan Haryo SAS adalah perjalanan tentang perubahan.

Dari seorang anak yang belajar seni.

Menjadi perupa.

Menjadi seniman video.

Menjadi pendidik.

Menjadi praktisi desain.

Dan kemudian membangun gagasan tentang sebuah rumah kreatif.

Perjalanan itu belum selesai.

Justru mungkin baru memasuki babak baru.

Sebab Art House of Haryo SAS memiliki peluang untuk berkembang menjadi laboratorium seni, desain, teknologi, pendidikan, penelitian, dan komunitas.

Sebuah tempat di mana seniman tidak hanya membuat karya.

Tetapi juga berbagi pengetahuan.

Sebuah tempat di mana mahasiswa tidak hanya belajar teori.

Tetapi juga mengalami proses kreatif.

Sebuah tempat di mana teknologi tidak hanya digunakan sebagai alat.

Tetapi dipertanyakan, dieksplorasi, dan diubah menjadi bahasa artistik.

Dan pada akhirnya, mungkin inilah inti perjalanan Haryo SAS:

Dari kanvas menuju layar.
Dari citra menuju gagasan.
Dari seni menuju pendidikan.
Dari rumah menuju ekosistem kreatif.

Haryo SAS mungkin telah menghabiskan hidupnya untuk menciptakan gambar.

Namun pada akhirnya, yang sedang ia bangun bukan hanya karya-karya seni.

Ia sedang membangun sebuah cara untuk terus menghidupkan seni—di tengah perubahan zaman.

Haryo SAS bukan sekadar perjalanan dari satu medium ke medium lainnya.

Ia adalah perjalanan tentang bagaimana seorang seniman beradaptasi terhadap zaman, mempertahankan ingatan, mengembangkan gagasan, dan kemudian mengubah pengalaman artistiknya menjadi ruang yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari kanvas.

Menuju layar.

Dari layar.

Menuju ruang kreatif.

Dan dari ruang kreatif—

menuju sebuah ekosistem.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIAPA YANG MENENTUKAN NILAI SEBUAH KARYA SENI?

KETIKA AI BISA MELUKIS, APA YANG MASIH BISA DILAKUKAN SENIMAN?