Echoes Within

Echoes Within

Seniman : Haryo SAS

Tahun 2024
Media : acrilic on canvas
Ukuran :

Ide Dasar Seniman

Karya ini berangkat dari pemahaman bahwa manusia tidak pernah memiliki identitas yang tunggal. Di dalam setiap individu hidup berbagai lapisan pengalaman, kenangan, harapan, dan pergulatan batin yang saling berdialog sepanjang kehidupan. Dua wajah yang hadir dalam satu komposisi merupakan metafora mengenai keberadaan diri yang selalu berada dalam proses memahami, mempertanyakan, dan menerima dirinya sendiri.

Melalui pendekatan Neo Cubism Indonesia, bentuk figur diuraikan ke dalam bidang-bidang geometris yang saling bertumpuk tanpa kehilangan kesatuan visual. Fragmentasi tersebut bukan dimaksudkan untuk menghadirkan kesan terpecah, melainkan menunjukkan bahwa identitas manusia tersusun dari berbagai pengalaman yang saling melengkapi. Garis-garis ritmis, pola organik, dan struktur geometris membangun ruang yang mempertemukan logika dengan intuisi, serta realitas dengan ingatan.

Gestur tangan yang menyentuh wajah memperkuat makna kontemplatif. Sentuhan tersebut menjadi simbol kesadaran, empati, dan proses mendengarkan suara batin yang sering kali tersembunyi di balik hiruk-pikuk kehidupan. Medium akrilik di atas kanvas dipilih karena mampu menghadirkan lapisan warna dan tekstur yang memperkuat kedalaman emosional karya sekaligus mempertahankan spontanitas sapuan kuas.

Melalui karya ini, saya ingin mengajak penonton melihat bahwa keutuhan manusia tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan menerima berbagai sisi dirinya sebagai satu kesatuan yang utuh.


Catatan Kuratorial

Echoes Within menghadirkan reinterpretasi kubisme yang bergeser dari eksplorasi bentuk menuju eksplorasi psikologis. Bila kubisme klasik berupaya membongkar objek menjadi berbagai perspektif visual, karya ini menggunakan strategi fragmentasi untuk memetakan ruang batin manusia yang terdiri atas berbagai lapisan kesadaran.

Dua wajah yang saling bertaut menjadi pusat komposisi. Kehadiran keduanya tidak menunjukkan dualisme yang saling bertentangan, melainkan hubungan dialogis antara berbagai dimensi diri: kesadaran dan bawah sadar, ingatan dan harapan, pengalaman masa lalu dan kemungkinan masa depan. Fragmentasi bidang geometris menjadi bahasa visual yang menyatukan berbagai dimensi tersebut dalam sebuah struktur yang harmonis.

Pola garis yang mengalir pada rambut dan latar belakang menghadirkan ritme organik yang kontras dengan bidang-bidang geometris yang terukur. Pertemuan antara unsur organik dan geometris ini memperlihatkan bagaimana kehidupan manusia selalu bergerak di antara spontanitas emosi dan keteraturan rasional. Gestur tangan yang menyentuh wajah menjadi titik fokus yang memperkuat nuansa reflektif, seolah figur sedang mendengarkan gema pikirannya sendiri.

Dalam versi akrilik di atas kanvas, palet warna yang didominasi oker, krem hangat, siena bakar, biru keabu-abuan, hijau zaitun lembut, serta aksen merah marun membangun atmosfer yang tenang sekaligus mendalam. Tekstur sapuan kuas memperlihatkan jejak proses kreatif, mengingatkan bahwa karya seni merupakan hasil pengalaman material dan emosional yang tidak dapat sepenuhnya direduksi menjadi citra digital.

Sebagai bagian dari seri Neo Cubism Indonesia, karya ini menunjukkan bagaimana warisan kubisme dapat ditafsirkan ulang melalui sensibilitas seni rupa Indonesia kontemporer. Bahasa visual modern dipadukan dengan pendekatan yang lebih humanistik, menjadikan figur manusia bukan sekadar objek formal, melainkan ruang tempat identitas, memori, dan kesadaran saling beresonansi.

Melalui Echoes Within, penonton diajak menyadari bahwa suara paling penting dalam kehidupan sering kali bukan berasal dari dunia luar, melainkan dari gema yang tumbuh di dalam diri sendiri.


Pernyataan Artistik

Echoes Within merupakan bagian dari eksplorasi saya dalam seri Neo Cubism Indonesia, yaitu upaya mengembangkan bahasa visual kubisme menjadi media untuk membaca pengalaman manusia kontemporer. Fragmentasi, multiperspektif, dan struktur geometris saya gunakan sebagai metafora atas identitas yang terus berubah, dibentuk oleh memori, relasi, dan perjalanan hidup.

Melalui figur yang saling bertaut, saya ingin menunjukkan bahwa setiap manusia hidup bersama berbagai lapisan kesadaran yang tidak selalu tampak di permukaan. Tubuh menjadi ruang tempat pengalaman, emosi, dan ingatan berinteraksi. Dengan medium akrilik di atas kanvas, saya menghadirkan keseimbangan antara struktur geometris dan ritme organik, sehingga karya ini tidak hanya menjadi eksplorasi formal, tetapi juga sebuah refleksi mengenai pencarian makna, dialog batin, dan penerimaan diri dalam kehidupan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Art House Of haryo SAS

SIAPA YANG MENENTUKAN NILAI SEBUAH KARYA SENI?

KETIKA AI BISA MELUKIS, APA YANG MASIH BISA DILAKUKAN SENIMAN?